Dintara Selakangan Tante

Jilat kemaluan tante mesum – Jilat kemaluan tante mesum – “Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!” tanya Sandi pada ATari. Mereka duduk di ruang tengah rumah ATari. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Sandi, bahkan ATari tampak lebih cantik dan menawan.

“Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!” jawab ATari sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Sandi.

Sandi mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orangorang yang apik.

“Mbak Ning kerja?!” tanya Sandi lagi.

“Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga,” kata ATari sambil berdiri dari duduknya. “Kau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!” kemudian ATari masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Sandi tak lepas dari pinggul ATari yang bergoyang-goyang.

ATari melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, ATari berpikir: “Sandi benar-benar datang!” ATari benar-benar tidak menduga, bahwa Sandi akan menepati janji. Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.

“Bennnn !!!” Sandi yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara ATari yang memanggilnya mesra.

Sandi menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. ATari berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Sandi terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh ATari tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Sandi tidak berkedip.

ATari tersenyum sambil menjentik pipi Sandi. “Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!”

“Ah, tidak. Aku . . . eh, Mbak cantik sekali!” kata Sandi gelagapan dan serba salah.

“Wowww! Rayuan gombal!” ujar Tari sambil mengerling manis. “Bennn!! Tolong aku, ya . . . ?!”

“Tolong apa, Mbak?!”

“Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar mandi.” kara ATari dengan suara manja. Suara yang membuat hati Sandi panas dingin.

Sandi segera ke kamar Mbak, Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. “Terima kasih, Ben!” ujar ATari sambil mengenakan sendal yang diambilkan Sandi.

Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba-tiba kaitan handuk ATari terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah. ATari terkejut. “Oh . . . !” serunya. Tetapi ATari sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.

Yang terlebih gawat adalah Sandi. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan Sandi tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya ATari. “Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!” ATari meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Sandi yang ketat. “Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !!” ATari masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah, tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala ATari menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir Sandi yang mencari-cari bibirnya. Sandi tak sabar. Didorongnya tubuh ATari. Ditekankannya ke dinding kamar mandi, sehingga ATari tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Sandi berhasil menangkap bibir ATari. “Hmmmm! Mmmmmm !!” ATari tidak lagi meronta. Matanya segera meredup. Menerima pelukan dan kuluman bibir Sandi yang hangat. Bahkan sekarang, ATari ikut membalas. Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Sandi. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah ATari mengait-ngait lidah Sandi. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Sandi semakin membuncah. Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan dada Sandi yang bidang!

“Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!”

“Mbak !! Ssssh !!”

“Sesak napasku, Bennnnn!!”

“Biarlah sesak!”

“Putus jantungku!”

“Biarlah putus!”

“Kalau aku mati . . . ?!!”

“Aku akan ikut mati!”

ATari tertawa sambil mencubit pipi Sandi. “Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau benarbenar mau ikut mati?!”

“Mau! Demi Mbak!.’ujar Sandi sambil menciumi leher ATari dengan lembut sekali. ATari menggeliat-geliat. Lehernya menggeleyong-geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan.

“Benn . . . !!” ATari menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya.

“Ada apa Mbak?!”

“Mengapa kau bersikap begini padaku?!” dan ATari lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Sandi menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok.

“Saya . . . saya . . . cinta pada Mbak . . . !!” ujar Sandi di tengah dengus-dengus napasnya.

ATari tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Sandi. “Kamu nggak bohong?!” tanya ATari sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Sandi lebih le-luasa melakukan aktifitasnya.

“Saya nggak bohong, Mbak!”

“Kamu bohong . . . !” ATari memijit hidung Sandi dengan gemas.

“Aww . . . !” Sandi menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat.

“Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol! Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan menangis!” ujar ATari sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang kemerahan menantang itu kedada Sandi yang bidang. Dan Sandi merasakan sesuatu mengutik-utik di antara kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya.

“Tetapi aku tidak begitu, Mbak. Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!” Sandi panas dingin menahankan sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut.

“Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh-sungguh mencintaiku?!” ATari melepaskan satu demi satu-satu kancing hemd Sandi. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar mandi yang basah.

Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Sandi sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah ATari bilamana bulu-bulu dada yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya.

“Bennn!” bisik ATari.

“Ada apa, sayang?!” tanya Sandi.

“Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!”

Sandi tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya ATari ke luar dari kamar mandi. Mbok Inem, pembantu ATari sedang ke pasar. Sandi meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring. ATari menatap tubuh Sandi yang aduhai itu. Sandi hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna putih. selangkangan Sandi tampak menonjol. Dan ATari menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Sandi. Dan ATari sekali lagi menelan ludah.

“Bennnn . . . !!” ujar ATari. “Ada apa, sayang?!”

“Bukalah celana dalammu. Bukalah!”

Sandi tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata ATari membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Sandi! Senjata yang menggayut setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting: Bukan main! Seumur hidupnya, ATari belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu.
D U A

BUKAN BARU sekali ini ATari menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, ATari harus mengakui, bahwa lelaki seperti Sandi sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya!

ATari membiarkan saja Sandi meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Sandi meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.

ATari merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Sandi hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat ATari jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. “Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!” ujar ATari sambil membusungkan dada yang sedang diremas Sandi, agar ATari lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.

Sandi memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Sandi menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh ATari semakin deras saja!

“Ben !! Kamu sering main perempuan!” tanya ATari ditengah-tengah napasnya yang terengah.

“Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja.” ujar Sandi sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.

“Auww . . . !!” ATari menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Sandi. Dan untuk kesekian kali, ATari harus mengakui, bahwa kuluman bibir Sandi sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. “Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!” dua telapak tangan ATari mengerumasi rambut Sandi sambil menekankan.

Sandi semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Sandi. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Sandi melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. “Oukh, Sandi! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!” mulut ATari mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada ATari semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Sandi menggeser-geserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas ATari turun naik. “Sandiy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !” dan ATari merintih-rintih.

Sandi semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Sandi mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan ATari tak menentu mengerumasi rambut Sandi yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.

Lama Sandi mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Sandi tak mau membiarkan menganggur. Ketiak ATari berbulu lebat. Sesuai dengan selera Sandi. Sandi memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Sandi, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.

Sandi menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. “Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!” bisik ATari terputus-putus.

Sandi bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Sandi juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Sandi.

Permainan lidah Sandi terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh ATari yang sensitip. Dijilatinya perut ATari yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Sandi berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Sandi membelai-belai kedua paha ATari yang masih terkatup.

ATari sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika ATari menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Sandi. ATari menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. ATari menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Sandi yang aduhai. Sandi yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar ATari tertahan-tahan napasnya. “Oukh. Mbak . . . !” katanya. ATari merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Sandi masih juga terus meraba-raba ATari berganti-ganti.

“Sabar, Mbak!” bisik Sandi. “Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!”

Apa boleh buat. Meskipun ATari masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.

Dan . . . hhmmmh! Sandi menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan ATari. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan ATari bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, Sandi harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat ATari. Sandi menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Sandi akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Sandi bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. “Oukh, Ben!” ATari menepuk pipi Sandi lembut. “Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!”

Sandi menelan ludah sambil tersenyum. “Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !” ujar Sandi sambil membelai rambut kemaluan ATari. “Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!”

ATari tertawa kecil. “Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!” tanya ATari sambil menggosok-gosok bulu-bulu rambut di dada Sandi.

“Senang sekali, Mbak. Senang sekali,” Sandi masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu.

“Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!”

“Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!” ujar Sandi.

ATari tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Sandi. “Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!”

Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Sandi akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan ATari yang kini sudah terpampang di hadapannya. Sandi menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. ATari merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Sandi bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!

“Bennn !!” ATari merintih.

Sandi menguakkan bibir-bibir kemaluan ATari. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Sandi menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Sandi meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Sandi memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Tari memijit hidung Sandi agak kuat. “Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!”

Sandi tersenyum. Tahulah dia, bahwa ATari sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Sandi masih ingin lebih lama memandangi. Vagina ATari rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Sandi menyentuhnya. ATari tergelinjang. “Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!” ATari menggeliat. Jari Sandi terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.

Sandi menempatkan di antara kedua paha ATari yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Sandi menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi ATari bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Sandi senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. “Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!” ATari merintih-rintih.

Tingkah Sandi saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Sandi menyentuhi sekerat daging kecil itu. ATari mengerumasi rambut Sandi.

Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Sandi semakin lebar lagi. Kedua kaki ATari kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, ATari terpekik: “Awww . . . !” Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Sandi telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. “Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!” ATari merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Sandi dengan kedua tangnnya. Maka hidung Sandi mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina ATari. Kaki ATari menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Sandi terus dengan giatnya menciumi. Vagina ATari menyebarkan aroma yang segar merangsang!

“Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!”

“Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak,” bisik Sandi sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat.

Mata ATari merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. “Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!” tersendat-sendat suara ATari.

“Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!” kata Sandi tersendat-sendat pula. Dan lidah Sandi terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit ATari. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan ATari telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki ATari terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.

Sandi benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina ATari yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Sandi semakin rakus dan semakin rakus.

“Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!” suara ATari menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Sandi mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina ATari yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba ATari mengejang. “Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!” ATari merentak-rentak.

“Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!” ujar Sandi yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina ATari dengan ujung lidahnya.

“Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, ATari mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Sandi sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Sandi membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan ATari. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Sandi yang terus menusuk-nusuk lobang vagina ATari.

Sandi yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu ATari semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Sandi sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan ATari gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !

Sandi tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan ATari yang melekati pinggiran bibirnya. ATari melompat dan memeluk Sandi kuat-kuat. “Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!” dan ATari menciumi bibir Sandi bertubu-tubi.

“Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! “ujar Sandi.

“Kau tidak jijik, Ben ?!”

“Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!”

ATari tambah gembira. Menciumi lagi bibir Sandi bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. “Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!” ujar ATari yang segera menyergap selangkangan Sandi.

“Auwww . . . !” Sandi menjerit kaget.

Namun ATari tidak menghiraukan. Batang bazoka Sandi yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. ATari sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian.

Dengan mesranya ATari membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. “Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!” ATari terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.

“Kamu suka pada punyaku, Mbak?!” tanya Sandi sambil membiarkan ATari mengeser-geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya.

“Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!”

“Ngeri kenapa?!”

“Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!”

Beny teatawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!”

“Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!” ujar ATari.

Sandi tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman ATari. “Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini,” ujar ATari lagi.

Sandi merasakan geli dan nikmat bukan main ketika ATari menciumi zakarnya yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat dirasakan Sandi. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. “Hmmh, Mbak! Sssh . . . !” mulutnya mulai merintih-rintih.

Sambil menciumi, ATari memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan ATari gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. “Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!” ujar ATari.

Sandi tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa. Lezat!

Alat vital dalam genggaman ATari itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. ATari yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Sandi yang tertekuk. Kedua paha Sandi terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan ATari menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Sandi yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma ATari bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari ATari hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai ATari. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Tari sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. ATari yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Sandi nienggelinjang kaget namun nikmat. “Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!” Sandi merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.

Mendengar rintihan Sandi, ATari jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah ATari tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Sandi. Kunyahan-kunyahan mulut ATari dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Sandi merintih-rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. ATari kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti ATari, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan ATari tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Sandi yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Sandi.

“Enak, Ben . . . ?!” tanya ATari ditengah-tengah kesibukannya.

“Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!” Sandi berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya.

ATari terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Sandi keluar masuk mulut ATari. Pada waktu masuk, mulut ATari sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Sandi gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut ATari kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara ATari kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Sandi menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala ATari kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Sandi pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan ATari. Dengan bersemangat sekali, tangan ATari mengocok pangkal kemaluan Sandi dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : “Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!” menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Sandi menggigil. ATari tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Sandi. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenil:matan Sandi, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan ATari. Mata ATari sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Sandi setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. “Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!” bisiknya.

ATari tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. “Bagaimana, Ben?! Enak?!” tanya ATari.

Sandi menarik lengan ATari, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. “Enak sekali, Mbak. Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!” ujar Sandi.

ATari tersenyum mendengar pujian Sandi, “Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!” ujar ATari.

Sandi melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada ATari. ATari meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Sandi menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis.

“Sandi . . . !” mata ATari berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu.” Dan ATari melirik ke selangkangan Sandi. Senjatanya masih tegang mengacung.

“Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!” bisik Sandi sambil membelai rambut ATari.
T I G A

HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Sandi naik ke atas tubuh ATari yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Sandi menciumi bahu dan payudara ATari, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha ATari.

ATari menggenggam batang bazoka Sandi yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Sandi yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Sandi yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha ATari sudah direntangkannya selebar-lebarnya. “Benn . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!” bisik ATari gemetar. “Kepunyaanmu besar sekali!”

Sandi mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. “Ayoh, Benn! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!” ATari memejamkan matanya.

Sandi mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: “Auww . . . !!!” ATari menjerit tertahan. “Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!” dan tubuh ATari mengejang, bergetar menahan rasa perih.

Sandi mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit ATari. Sandi merasakan lobang vagina ATari menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya!

“Ayoh, Ben! Tekan lagi!” bisik Tari setelah rasa sakit itu hilang.

Sandi menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Sandi yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, ATari tersentak sambil menjerit: “Addduuhhh! Bennn! Ssssaakkhittss ”

“Tahankan, sayang!” bisik Sandi sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata ATari yang berlinang. “Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!”

Sandi membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi ATari merasakan kemaluan Sandi bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. ATari menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Sandi keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep! Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina ATari sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku,” kata Sandi.

“Kepunyaanmu terlalu besar, Ben,” ujar ATari sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin mendatangkan nikmat bagi Sandi. Demikian pula bagi ATari. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. “Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!” tanya Sandi sambil mengecupi belakang telinga ATari. ATari menggelinjang-gelinjang geli.

“Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat.” bisik ATari.

“Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!” ujar Sandi. “Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak sekali!”

“Bennn . . . !!” Ujar ATari yang tersenyum bangga, menerima pujian Sandi.

“Ada apa?!” tanya Beatty.

“Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!”

“Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!” Sandi meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan ATari yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.

“Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang,” bisik Sandi dengan mesranya. “Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!”

“Ayoh, sayang! Aku sudah siap,” kata ATari sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.

Dan Sandi pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina ATari. Blesss! Wow!, ATari bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi ATari jadi agak kecewa ketika Sandi menghentikan dorongannya. Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. ATari jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. “Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!” kaki ATari menjepit pinggang Sandi. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Sandi ke bawah. Sandi mengerti, ATari sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi. Tetapi bukannya mendorong, Sandi malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar. ATari jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Sandi mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan ATari. ATari menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, “Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!” semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali. Membanjiri seluruh lobang gua ATari. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh ATari. Dan bersamaan dengan jeritan ATari, Sandi pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh ATari kuat-kuat. ATari merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!” Akh. Mbak! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!” Sandi meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, ATari merasakan batang zakar Sandi berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.

Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Sandi merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh ATari. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. ATari memijit hidung Sandi. “Luar biasa sekali,” ujar ATari. “Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!”

“Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!” balas Sandi. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.

Apa yang dikatakan ATari memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.

Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! ATari merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Sandi. “Aku semakin mencintaimu, Mbak!” bisiknya.

ATari menggeleng-gelengkan kepala. “Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!” ujarnya ATari.

“Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!” ujar Sandi lagi.

“Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!”

ATari memijit hidung Sandi dengan mesra. “Ih, dasar bandel!” ujar ATari. “Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!”

“”Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!”

“Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!

Sandi tidak menjawab. Hanya merenung.

“Deagarlah, Ben!” ujar ATari sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Sandi. “Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!”

“Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu,” jawab Benay.

JAM SATU lewat tengah malam, Sandi meninggalkan rumah ATari. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Sandi ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Taate Dewi sendiri yang membukakan pintu. “Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya,” kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany. Tidak biasanya Sandi pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Sandi termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran.

“Ini, Tante. Teman ulang tahun!” ujar Sandi seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang.

Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Sandi ke kamar. Baru saja Sandi melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Sandi! Uf!” Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!” ujar Dewi sambil mulutnya menghujani bibir Sandi bertubi-tubi.

“Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!” ujar Sandi sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi. Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Sandi, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Sandi. Sesaat kemudian, hemd itu telah melayang kc lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri.

Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Sandi yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya.

“Sandi! Tante sudah sangat rindu. Sudah lama mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!” ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Sandi yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremas-remas milik Sandi yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata Sandi sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Sandi, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Sandi. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya. Dan: “Ohg . . . !!” kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. “Hnmmhh . . . ehg!” Sandipun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang.

“Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!” Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Sandi segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi. Blassssh! ! !” Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!” Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Sandi telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya Sandi. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Sandi. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Sandi. Demikian pula Sandi. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Sandi mendesah-desah. Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Sandi mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tantea Dewi di atas dan Sandi di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Sandi bertubi-tubi. Sandi membalas tak kalah semangat.

Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan Sandi pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Dewi yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra!

Tante Dewi semakin lama semakin kesetanan. Sandi pun demikian pu1a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. “Ehb, Bennn . . . !!!”

“Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!”

“Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!”

“Sssst! Hmmmh . . . !!”

“Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!”

“Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!”

“Bennnnn !!!” Tante Dewi semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada Sandi, sehingga Sandi kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Sandi. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Sandi membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Sandi ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkal-pangkalnya!

“Bennnnnnn!!” Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Sandi.” Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!” bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin.

Secara hampir bersamaan pula Sandi pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Sandi memeluk Tante Dewi kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Sandi membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Sandi menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Sandi berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang memang sudah banjir!

Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Sandi. Terkulai lemas. “Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!” bisik Tante Dewi sambil memeluk Sandi dari samping.

Sandi tak menjawab. Memandang langit-langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Sandi bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Sandi yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Sandi. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Sandi bangkit kembali. Napas Sandi mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.

“Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!” ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Sandi, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Sandi meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih. “Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!”

Ditantang seperti itu, tentu saja Sandi yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Sandi benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap. Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja.

Sandi mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, “Ehg . . . !!” Tante Dewi menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Sandi, namun pada saat pertama kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!

“Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!” ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Sandi yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. “Hantammm, Bennnnn!” ujar Tante Dewi yang seolah-olah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur.

Sandi segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang. “Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh!!” Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau.

Sandi merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat nafsunya semakin bergelora. “Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!” Sandi menggumam dengan mata merem melek. Pada waktu senjata Sandi menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu. “Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . !!

“Tante Dewi mcnggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Sandi menarik senjatanya, Sandi agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Sandi merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir-pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Sandi terkesan oleh Tante Dewi!

Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Sandi benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Sandi yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Sandi kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah main dengan lelaki-lelaki lain.

“Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!” bisik Tante Dewi.

“Ih, Tante kayak kuda betina saja!” kata Sandi sambil memijit hidung Tante Dewi.

“Dan kau kuda jantannya!” Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Sandi. “Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!”

Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya sama-sama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Sandi tidak ngantor. Tenaganya terkuras habis!
E M P A T

BILAMANA Sandi membuka matanya, ternyata matahari telah naik tinggi. Sinar mataliari yang menerobos dari ventilasi, jatuh tepat ke wajah Sandi. Terasa panas. Sandi melompat! Bekker di kamarnya telah menunjukkan pukul sebelas. Oukh! Tadi sebelum tidur, tenaganya benar-benar habis. Namun sekarang, Sandi kembali segar. Sesegar bunga yang baru mekar. Inilah kelebihan Sandi yang sangat disenangi perempuan-perempuan yang haus kasih sayang!

Pada saat sedang duduk di pinggiran tempat tidur, Sandi mendengar suara cekikikan perempuan. Sandi mengenali salah seorang diantaranya. Suara tawa Tante Dcwi. Tetapi siapa seorang lagi ! Sandi bangkit dari duduknya dan ke luar dari kamar.

“Nah, dia sudah bangun . . . ! suara Tante Dewi. “Bennnnn! Kenalkan, nih! Teman Tante, Zus Mia!”

Sandi mengulurkan tangannya menyalami Zus Mia. Wah, bukan main. Sandi sampai terpana. Cantiknya selangit. Apalagi dengan rambut di potong pendek, model lelaki. Diam-diam Sandi berkata dalam hatinya: Bagaimana sih rasanya perempuan seperti Zus Mia. Enak tentunya!

“Maaf, Zus ! Saya mandi dulu,” ujar Sandi.

“Silahkan,” jawab Zus Mia.

Setelah Sandi berlalu ke kamar mandi, Tante Dewi menjawil Zus Mia seraya katanya: “Kelihatannya Sandi naksir kamu, Mia!”

“Kayaknya sih begitu!” balas Mia.

Sandi mandi puas-puas. Tubuhnya terasa semakin segar lagi. Bila Sandi memasuki kamarnya setelah selesai mandi, Sandi terkejut sekali. Tante Dewi dan Zus Mia sudah terlentang di tempat tidurnya dalam keadaan merangsang, tanpa busana! Tetapi hanya sekejap Sandi terkesiap. Segera dia melepaskan handuk yang membelit tubuhnya. Sandi dalam keadaan telanjang bulat, menyergap Zus Mia yang terlentang di pinggiran tempat tidur. Zus Mia membalas. Agak malu-mau. “Ben!” ujar Tante Dewi. “Aku sering menceritakan tentang dirimu pada Zus Mia. Zus Mia terkesan. Dan ingin pula mencicipi kejantananmu yang perkasa itu!” kata Tante Dewi.

“Betulkah itu, Zus!” tanya Sandi.

Zus Mia mengejap-ngejapkan matanya. “Eh . . . tidak ! Eh, iyyaa! Tetapi nggak apa-apa, kan! Kamu bersedia, kan ! Memberikan kebahagian padaku!” ujar Zus Mia agak gagap.

“Tentu saja! Siapapun akan siap memberikan kebahagiaan pada Zus Mia yang cantiknya selangit begini!” kata Sandi.

Zus Mia tertawa-tawa kecil ketika Sandi mengecupi bibir dan seluruh wajahnya bertubi-tubi. Mendapat giliran pula lehernya yang jenjang merangsang. Lalu pentil-pentil susunya yang tegak merangsang. Uf! Ternyata menggeluti Zus Mia mempunyai keasyikan tersendiri. Buah dadanya lebih besar dan lebih padat pada millk Tante Dewi. Pentil susunyapun lebih besar dan merangsang! Demikian pula bukit kemaluannya. Lebih mumbul. Hanya saja, rambut kemaluannya tidak selebat milik tante Dewi dan ATari!

“Bennnnn! Ehg. Aukhhhh . . . !!!” Zus Mia menjerit sejadi-jadinya bilamana kepala zakar Sandi yang bengkak dan besar itu menyeruak lobang vagina Zus Mia yang sangat kecil dan sempit. Zus Mia merasakan sakit amat sangat. Ini dimaklumi, karena Zus Mia belum pernah merasakan senjata yang besarnya seperti kemaluan kuda !

“Bennnnnn ! Ssssakkkittthhhsss . . . !!” kata Zus Mia berkelojotan.

“Tahankan, Mia. Tahankan!” ujar Tante Dewi sambil. memegangi keclua kaki Zus Mia. “Nantipun kau akan merasakan enak. Tahankan, sayang !”

Benar saja. Kalau tadi, Zus Mia merasakan sakit luar biasa, lama kelamaan rasa sakit itu hilang, berganti dengan rasa enak luar biasa. Sudah tentu Zus Mia senang sekali, Gerakan-gerakan memutar pantat dan pinggulnya sungguh romantis, seirama dengan ayunan-ayunan pantat Sandi yang naik turun dan sesekali melakukan gerakan memutar yang aduhai. “Oukh., Bennnn! Ennnaakhhh, sayangghhhh . . . !” demikian ujar Zus Mia berulang-ulang.

Sandi tersenyum sambil terus juga memnyerbu bukit kemaluan Mia yang indah menantang. Tante Dewi yang menyaksikan adegan itu jadi terangsang. Segera dia berdiri, mcngangkangi kepala Zus Mia. Ditariknya kepala Sandi. Sandi mengerti. Tante Dewi ingin agar Sandi mengerjai kemaluan Tante Dewi dengan mulutnya. “Ayoh, Bennn! Ciumi punyaku ! Aku juga sudah tidak tahannhhhh . . . !” ujar Tante Dewi dengan suara sengau tak menentu.

Sandi melakukan dua macam kesibukan. Sementara kemaluannya menerobos keluar masuk belahan daging Zus Mia, mulutnya dengan mesra menciumi bukit kemaluan Tante Dewi yang sudah mekar menantang.

“Bennnn ! Aukhhh! Terruusssh, Bennnn! lyyyyaaakhhh . . . ! “Zus Mia terus meracau.

“Addduuuuh, Bennnn ! Enaknyaaa! Terrusssh. sayangghhh! Kelentitnya, Bennnn ! Iyyyaaahhhh! Nah, itu, tuuuuuh! Uf! Hmmm, . . . nyem! Nyem! Gigit, Bennnn! Gighhhiuitttssss . . . !!” Tante Dewi juga meracau sambil menekan belakang kepala Sandi, sehingga hidung dan mulut lelaki muda itu masuk seluruhnya ke belahan kemaluan Zus Mia yang mekar semekar-mekarnya.

“Besssss!”

“Sleessep!”

“Blessss!”

“Ahk . . . ih!”

“Oukh . . . !!”

“Hmhhh !!”

Berbagai suara, ditingkah dengan berkecipaknya zakar Sandi yang timbul tenggelam, terdengar sangat merdu dan mesra. Mulut vagina yang sempit itu ikut monyong ketika Sandi menarik senjatanya dan sampai kempot melesak ke dalam pada waktu Sandi mengamblaskan zakarnya. Lama mereka bertarung mati-matian, sampai akhirnya Tante Dewi yang terlebih dulu kejang. Tante Dewi menekan belakang kepala Sandi sekuat-kuatnya, sambil menjerit histeris.

“Bennnnn!AkhhhuUUu kelluarrr . . . !!! Sshhh . . . akkkkhhh . . . !!” dan Tante Dewi sambil setengah berdiri, meliuk-liuk seperti orang kesetanan ! Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Dengkulnya gemerar sekali. Punggunya setengah menekuk, bagaikan udang tangannya meremas-remas dan menjambak jambak rambut Sandi sampai lelaki itu merasa sakit. Namun bercampur kenikmatan. Pada saat itu pula. Sandi merasakan semburan-semburan lahar panas dari dalam lorong vagina Tante Dewi. Banyak sekali. Kental dan licin. Sandi bagaikan orang yang haus, dengan rakus meneguk semua cairan itu. Tanpa tersisa lagi. Terasa gurih dan harum!

Tante Dewi segera jatuh tergelimpang dengan lemasnya.

Namun penuh puas!

Sandi masih bertarung dengan Zus Mia. Dua menit setelah jatunhnya Tante Dewi, Zus Mia menjerit-erit histeris. Tubuhnya berkelojotan, seperti ayam disembelih. Menggelepar-gelapar. “Oukh, Bennnnn! Akhhuuuu keluarrrhhhh!!! Ssshhh, Bennn! Akkhhh! Ennnnnaaakhhhh !!! dan Zus Mia tidak lagi mampu mempertahankan bentengnya. Bobol seketika. Lahar menyembur-nyembur. Mata Zus Mia terbeliak-beliak. Cuma kelihatan putihnya saja. Kuku-kukunya yang panjang-panjang itu, mencakar-cakar punggung Sandi sampai berdarah!

Zus Mia segera lemas setelah mencapai puncak kenikmatan. Namun Sandi sendri belum, Sandi masih terus menaik turunkan pantatnya dengan bersemangat. “Oukh, Ben! Akkhhuuu lemassss Lettttiih Isti . . . rahattsss duluuu, Bennnnn! !!” Zus Mia merintih-rintih.

“Sebentar, Zus. Tanggung, nih! Mau enak, Zus! Tahankan!” ujar Sandi tersendat-sendat.

“Ampun, Bennnn!Ampunnnnn! !!”

Tetapi mana mau Sandi mempedulikan rintihan-rintihan Zus Mia. Malah Sandi semakin ganas dan bersemangat menghujamkan batang kemaluannya. Zus Mia meronta-ronta. Sandi menekan tubuh Zus Mia dengan tangannya. Dan zakarnya terus juga bekerja. Blassssh! Slesssepsss!Srrrt! Blassshhhh ! !!” Ampun, Bennnn ! Ampunnn !”

“Sebentar, Zus . . . !!”

Dari letih, lemas dan tidak bertenaga, akhirnya Zus Mia jadi bernafsu lagi, karena bukit kemaluannya terus menerus diserbu habis-habisan oleh zakar Sandi yang perkasa. Dan Zus Mia pun mulai menggoyanggoyangkan pinggulnya, memutarmutar romantis. “Bennnnn, . !! Uukh, kau sungguh perkasa dan pintar. Aku jadi nafsu lagi. Enak lagi, Bennnnn!!” Zus Mia mengerumasi rambut Sandi. Dan merekapun terus bertarung, mendaki bukit yang terjal.

Lima belas menit kemiudian, barulah keduanya mencapai orgasme secara bersamaan. “Zusssshhhh! Akkkhhuuuu kelluuuarrr, ssshhh . . . ! Akkkkhhhh !! Oukh !!” dan Sandi menggeram hebat bagaikan harimau lapar bertemu lawan. Kedua lengannya yang kekar memeluk dan menekan tubuh Zus Mia sekuat-kuatnya, sehingga Zus Mia merasakan tubuhnya remuk seketika. “Oukh, Ben! Akhhhuuu jughhhaaa kelluarrr . . . sssh, akhhhhh !!” Banjirlah lorong vagina yang sempit itu, sehingga sebagian menetes-netes ke luar, membasahi sprei. Semprotan-semprotan bertubi-tuhi telah menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya, saling bercampur kental, hangat dan licin! Hmmmmmh, benar-benar sorga dunia!

Sandi segera tergelincir dari tubuh Zus Mia. Tante Dewi yang sudah mendapatkan istirahat cukup setelah menyemprotkan cairan mani, naik spanning. Dia tidak memberikan kesempatan pada Sandi untuk beristirahat. Ditariknya lelaki itu dari tempat tidur. “Ayoh, Bennn! Kerjai aku sambil berdiri. . . . !!” ujar Tante Dewi yang sudah-tersengal-sengal bernafsu!

Sandi bukanlah Sandi kalau dia tidak mampu melayani tantangan perempuan secantik Tante Dewi. Dasar mesin tokcer, sekalipun tanpa istirahat, Sandi sanggup untuk bertarung lagi. Dalam keadaan berdiri, Sandi menekan tubuh Tante Dewi ketembok. Sebelah paha Tante Dewi diangkatnya tinggitinggi, sehingga memperlihatkan belahan kemaluan yang sudah mekar semekar-mekarnya. Sandi lalu mengunjamkan senjatanya ke belahan yang amat menawan itu. “Oukh, Bennn!! Ennnaaakhhhhh!!”

Pertarungan sengit sambil berdua itu dimenangkan oleh Sandi. Tante Dewi lebih dulu mengeluarkan cairannya dan segera merosot jatuh lemas ke lantai. Sandi penasaran, karena belum mencapai puncak kenikmatan. Senjatanya maslh tegangtegangnya. Sandi melihat Zus Mia masih berbaring dengan kedua paha terkangkang selebar-lebarnya. Maka Sandi segera menubruknya. Dan pergumulanpun terjadi. Semakin dahysat dari pada yang sudah-sudah!

Demikianlah berganti-ganti Sandi mengerjai kedua perempuan cantik itu. Sandi benar-benar kuda jantan yang patut diacungi jempol. Tante Dewi dan Zus Mia benar-benar merasa puas. Bahkan Zus Mia lebih gawat lagi, ingin memiliki Sandi seutuhnya!

Namun secara jujur, Sandi harus mengakui, bahwa diantara sekian banyak perempuan-perempuan yang pernah digaulinya, hanya dengan ATari Sandi merasa puas. Benar-benar kepuasan sempurna. Tante Dewi enak. Zus Mia lebih enak dari pada Tante Dewi. Namun kepunyaan ATarilah yang terlebih enak! Maka Sandi tidak dapat melupakan ATari!

Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Betapa kecewanya Sandi ketika mendatangi rumah ATari pada beberapa hari kemudian, ternyata ATari sudah pindah menempati rumah sendiri. Baru dibelinya ! Ujar teman sekamar ATari.

“Pindah ke mana, Zus!” tanya Sandi penasaran.

“Maaf! Saya tidak dapat memberitahukan. Ini atas kemauan ATari sendiri!”

“Lho, mengapa begitu!” tanya Sandi makin penasaran. “Saya sendiri tidak tahu,” teman sekamar ATari mengangkat bahu.

Sandi menghempaskan napasnya. Mengapa ATari bersikap aneh begitu ! Disaat rindu sedang menggebu-gebu, dia menghilang,. Padahal aku dan dia baru saja berkenalan, demikian kata hati Sandi. Dengan lesu Sandi minta diri dan meninggalkan rumah ATari. Kemana dia ? Mengapa dia tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya yang baru! Apakah dia membenciku ! Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia tidak mau memaafkanku! Sandi mengerumas rambutnya setelah tiba di tempat kostnya. ATari! Mengapa kau begitu cepat menghilang, padahal aku benar-benar sangat merindukanmu! Hanya kaulah yang mampu memberikan kepuasan yang sempurna padaku. Tidak perempuan-perempuan lain! Dan untuk kesekian kalinya, Sandi meremasi lagi rambutnya dengan resah. Bertepatan dengan itu, pintu terbuka. Masuklah Tante Dewi. “Kau kelihatannya resah sekali, Ben!” bertanya Tante Dewi.

“Saya sedang pusing, Tante . . . !!” ujar Sandi malas-malasan.

ATari dengan sengaja seolah-olah menghindari Sandi, pada hal perempuan itu mengakui, telah memperoleh kebahagiaan sempurna dari Sandi. Mengapa bisa demikian ! Benarkah ATari membenci Sandi! Benarkah Sandi telah melakukan kesalahan fatal, sehingga ATari tidak dapat memaafkannya !

Cara Cepat Hamil
Cara Cepat Memperbesar Penis
 

Topik yang berhubungan dengan cerita cewek ini: cerita meki tante, cerita memek tante, www cerita memek tante com, Www Ceritamemektante Com, selakangan cewek, ceritamemektante, memek tante mesum, memiaw tante, selakangan tante, cerita sex mbok rondo, vaginaku sobek, Cerita memek tante com, www memektante com, memek hilda, memek tante, memek mbok rondo, nikmatnya memek mbok rondo, meky tante, Www ngentotabangipar com, meki aduhai, nafsunya tante tante, Jilatin memek mbak ning, kentu tempek, kisah nafsu ibu meky, wwww cerita dewasa ayam kampung, tante hilda sex, ceritamemekbibiku, www ceritamasturbasitante com, tante cantik bagaikan mesum, Www ceritamemektanteku, wwww cerita tante, www cerita memektante com, nafsunya tanteku, www cerita selakangan, www ceritamemektante, wwww cerita sex tante com, Gambar Ngemut tempek gadis berjilbabku, nafsunya tante, panjangnya punyamu, www cerita dewasa vagina tante sex com.

This entry was posted in Cerita Ngentot and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.