Sex party orang gila – Singkat kata, kami berdua meninggalkan sepeda di rumahnya dan membeli makanan di warung sebagai bekal. Ternyata perempuan gila itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kami berdua mencari dengan sembunyi-sembunyi dan melintasi balik pagar jalanan, supaya tidak dilihat orang. Akhirnya ia kami menemukan perempuan itu di dekat jalan menuju lintasan ke sawah. Ia sedang duduk di tepi jalan. Dengan jantung berdegup keras, kami dekati dan kami bujuk serta kami beri makanan kemudian kami bimbing ke tepi sawah di balik tanah yang menggunung jauh dari jalan desa. Disana ada sebuah bangau kecil (tempat istirahat setelah bekerja di sawah). Setelah kami beri minuman, mulailah aku membuka switer dan sarung yang dikenakan perempuan itu tanpa kesulitan. Anehnya temanku menggigil menahan gejolak hatinya sehingga ia tidak membantu ketika aku membuka baju perempuan itu.
Tubuh telanjang itu sudah ada di hadapan kami dan ternyata perempuan itu tanpa BH dan celana dalam. Penisku langsung menegang dan mengeras seperti batu. Kemudian kami rebahkan perempuan itu di papan lebar tempat duduk di bangau dengan kaki menjuntai ke bawah. Sarung dan switer digunakan sebagai bantalnya. Mulailah tanganku menggerayangi badannya, aku tarik tangan temanku yang masih menggigil untuk ikut meraba dadanya yang menggelembung kenyal. Temanku mulai tenang dan menggigilnya reda dan mulai menggerakkan tangannya di sepanjang tubuh dan perut perempuan itu. Rencana semula yang hanya meraba dan menikmati tubuh telanjang, akhirnya berubah setelah perempuan itu kami lihat mulai terangsang.
Meskipun ia perempuan gila, ternyata bisa mengeluarkan erangan nikmat ketika jariku masuk ke liang vaginanya yang mulai basah dan pinggulnya ikut digerakkan. Aku kaget ketika perempuan itu tiba-tiba teriak keras “aduh enak banget…… aduh enak…….terus….” terpaksa aku minta temanku membekap mulutnya. Aku perhatikan ternyata temanku menggigil lagi seperti orang sakit malaria. Akhirnya aku membuat inisiatif untuk menyetubuhi perempuan itu dan temanku setuju. Aku memperoleh kesempatan lebih dulu merasakan persetubuhan dan temanku akan berjaga-jaga dari jarak jauh sambil menenangkan hatinya. Kesepakatan lain adalah tidak boleh ada mani yang dikeluarkan dalam vaginanya, agar tidak terjadi kehamilan yang bisa bermasalah dikemudian hari.
Aku sedikit menggiigil ketika aku membuka baju dan celanaku. Penisku yang sudah tegang mulai kuarahkan ke vaginanya. Jari-jariku membuka sedikit bibir vaginanya untuk memudahkan penisku masuk ke dalamnya. Ketika kepala penisku masuk, perempuan itu kelihatannya memahami kalau harus membuka pahanya. Untuk memperlancar, penisku aku tarik dan aku masukkan dengan pelan dan semakin lama semakin dalam. Terasa saat penis aku tarik, ada otot yang menangkap dan menjepit. Ketika penis aku dorong ke depan, ada cengekraman dan denyutan dalam vaginanya, sehingga aku akhirnya mendorong habis penisku sampai habis ke dalam. Aku sangat kaget karena tiba-tiba perempuan gila itu bangkit dan memelukku erat badanku serta menggoyangkan pinggulnya sambil teriak nikmat. Teriakannya cukup keras terpaksa aku atasi dengan menyumpal mulutnya dengan mulutku. Meskipun mulutnya bau tidak enak, tapi rasa vagina yang mulai meremas penisku, ternyata mengalahkan segala bau yang harus aku terima.
Penisku mulai bermain maju mundur sambil merebahkan badan perempuan itu. Belum sempat aku menikmati 2 menit, ujung penisku mulai ada rasa desakan yang akan menembakkan cairan. “Oohhh….. hahhhhh…….” terpaksa aku cabut penisku dan aku keluarkan di luar jatuh diantara kedua belah pahanya yang terjuntai. Agar tidak diketahui temanku kalau aku sudah sampai puncak, aku bergaya seolah-olah perempuan itu sedikit binal.
Secapatnya penisku aku lap dengan tangan dan aku menarik tangannya untuk memegang penisku. Ternyata dia tahu dan mengarahkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Aku masukkan dengan sekali terobos kemudian aku kocok dengan binal. Disini aku merasakan betapa nikmat dan beda rasa vagina dengan rasa onani. Tanganku memeras buah dadanya yang masih kenyal dan mulutku mulai melumat puting susunya. Sedotan vaginanya pun semakin kuat dan kembali terdengar suara teriakan keras tanda kenikmatan. Kembali mulutku menyumpal mulutnya. Aku tidak sempat mempertahankan lebih lama agar perempuan ini sampai puncak seperti yang aku lihat di video. Aku kalah lagi ketika terulang desakan dalam penisku tidak terbendung, secepatnya aku cabut penisku dan aku muncratkan di luar vaginanya. Permpuan itu kelihatan kecewa ketika aku mengakhiri kocokan tanpa peduli dia belum sampai puncak.
Aku panggil temanku untuk meneruskan dengan sedikit pesan agar jangan sampai dia teriak kencang saat mencapai kenikmatan. Caranya mulutnya harus dibekap. Aku kemudian menjauh ganti berjaga sambil melepas kepenatan. Tidak lama kemudian perempuan itu teriak sepertinya sebagai tanda kenikmatan dan pantatnya diangkat tinggi. Dari jarak pandang yang cukup jelas ternyata temanku kesulitan membekap mulutnya karena perempuan itu menggoyang-goyangkan kepalanya sangat kencang. Aku kawatir teriakannya ada yang mendengar sehingga aku lari mendekat dan aku bekap. Temanku belum berhasil melepaskan cairan kenikmatannya dan meneruskan mengocok sambil berlutut.
Gerakan buah dadanya di bawah terang sinar rembulan terayun seirama kocokan temanku menyebabkan aku tidak tahan untuk memeras dan mengenyot teteknya. Aku lihat temanku menaikkan kedua kaki perempuan itu di pundaknya dan kembali menggenjot dengan kuat. Melihat pemandangan semacam itu ditambah rintihan perempuan, aku tidak tahan membiarkan penisku yang tegang kembali menanggur. Penisku membutuhkan penyaluran tahap ketiga. Aku ambil cara sambil mengenyot teteknya, tangan kiriku mengocok penis dan tangan kananku membekap mulut si perempuan itu. Aku melihat tangan perempuan itu memegang erat pinggiran tempat duduk seolah berusaha bisa mencapai puncak.
Temanku kelihatan lebih perkasa, setelah berjalan 15 menit badanya menegang dan dengan cekatan mencabut penisnya, dia mencapai puncak dan memuntahkan maninya di luar. Secepatnya kedudukan temanku aku ambil alih dan seperti gaya temanku, aku angkat kaki perempuan itu di pundakku, kemudian penisku aku hujamkan kembali di vaginanya. Gerakan mengocok aku lakukan dengan pelan-pelan agar aku bisa bertahan lama dan tidak cepat keluar. Gerakan pelan itu ternyata menambah kuat cengkeraman vaginanya disertai denyutan panjang yang kemudian diikuti gerakan liar pantatnya. Tidak lama kemudian perempuan itu merintih dan teriak panjang “Aduh…….aduh……. ennaaakkkkk banget…….. aaahhhhh” kemudian menjadi jeritan tertahan yang diikuti dengan rangkulan sebagai pertanda ia mencapai puncak. Desakan dalam penisku juga tidak bisa aku bendung lagi dan aku semprotkan maniku di dalam. Aku merasakan betapa nikmat mengeluarkan cairan itu di dalam vagina.
Kami cepat-cepat berpakain dan mengenakan pakaian perempuan itu. Kami mengalami kesulitan ketika mengenakan pakaiannya karena dia sudah tertidur pulas. Kami berdua pulang mengambil jalan memutar supaya tidak ketemu orang. Sepanjang jalan kami berdua diam tidak bicara apapun. Ketika aku mengambil sepedaku di rumahnya, jam menunjukkan pukul 2.30 pagi lebih sedikit. Sampai di rumah aku berbaring dan tidak bisa tidur, masih terbayang rasa kenikmatan yang baru saya rasakan bersama hilangnya keperjakaanku. Maafkan kebiadabanku perempuan.



